Diet Karbon Perkecil Lingkungan Buruk

Pikiran Rakyat, 19 Februari 2009

Listrik merupakan energi yang bersih, tetapi tidak dengan bahan bakar yang digunakan untuk menghasilkannya. Maka penggunaan alat – alat elektonika akan berdampak pada lingkungan secara tidak langsung. Kemungkinan terjadinya dampak lingkungan yang lebih buruk dapat diperkecil dengan menjalankan “program diet karbon”.

Laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) grup 1 tahun 2007, menyimpulkan, peningkatan gas rumah kaca menyebabkan terjadinya pemanasan global. Gas rumah kaca yang paling berpengaruh disini adalah karbon dioksida (CO2). Penggunaan batu bara secara luas sebagai pembangkit listrik mengakibatkan meningkatnya level CO2, sekitar 36 persen lebih tinggi dari pada abad ke-18 sebelum revolusi industri, yang berarti meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca secara dramatis.

Siklus karbon

Karbon selalu berpindah dari atmosfer, daratan, dan lautan kemudian kembali lagi ke atmosfer. Dalam siklus ini akan ada yang menyimpan (seperti atmosfer, tanah dan air), mengeluarkan karbon (seperti hasil pembakaran pabrik), serta menyerapnya (seperti tanaman yang melakukan fotosintesis). Namun dua abad terakhir, manusia memindahan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer melalui penggundulan hutan dan penggunaan bahan bakar fosil, sehingga mengubah ritme alami yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Tahukah, bahwa rumah tangga merupakan sumber karbon tersebar setelah sektor industri! Apa saja peralatan yang ada di rumah, berapa banyak lampu dan pendingin ruangan (AC) yang terpasang? Berapa lama menggunakan televisi, CD player, komputer, kulkas, dispenser, blender, kompor gas, pompa air, pemanas air, dan lain-lain? Alat – alat itu merupakan sumber karbon dari rumah tangga. Apabila kita mencoba menyusun top ten penghasil karbon terbanyak di rumah tangga maka akan mendapatkan urutan sebagai berikut: AC, pompa air, lampu, kulkas, televisi, dispenser, pemanas air, kompor gas, setrika, dan yang terakhir adalah komputer, dimana dihitung berdasarkan samanya lama penggunaan.

Tanpa sadar ternyata kita selama ini turut serta menghasilkan karbon yang menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. Pemanasan global yaitu adanya indikasi naiknya suhu permukaan bumi secara global (keseluruhan) dari kondisi rata-ratanya (normal).

Vampir di rumah tangga

Di dalam rumah tangga juga terdapat vampir yang suka mengisap listrik atau vampir listik. Vampir listrik akan muncul apabila alat elektonik masih dalam kondisi siaga (stand by), karena listik masih menglir pada alat – alat elektonika tersebut. Listik yang mengalir tidaklah banyak hanya sekitar 5 watt per jam, tapi apabila kita biarkan dalam kondisi ini sehari sekitar delapan jam, berarti kita telah menghasilkan emisi CO2 kurang lebih sebanyak 31 kilo gram dalam satu tahunnya.

Pemanasan global dapat diperlambat prosesnya, dengan partisipasi kita dari lingkungan rumah tangga. Mengubah ventilasi, jendela sebaiknya dibuat dengan ukuran besar dan dalam jumlah yang banyak. Selain untuk memaksimalkan masuknya sinar matahari sehingga dapat mengurangi pemakaian lampu di siang hari, juga dapat berfungsi memperbaiki perputaran atau siklus udara dalam rumah sehingga mengurangi pemakaian AC. Memilih alat – alat elektronik seperti kulkas, AC, pompa air, lampu dan mesin cuci yang memiliki label hemat energi. Dan untuk mengantisipasi adanya vampir listrik maka harus mencabut alat – alat listrik dan tidak meninggalkannya dalam kondisi stand by. Semakin sedikit menggunakan energi listrik maka semakin hemat (biaya) dan menghasilkan emisi yang sedikit pula.

Pengurangan emisi karbon dioksida juga dapat dilakukan dengan cara hemat BBM, menciptakan hidup sehat dengan gemar bersepe dan dan berjalan kaki. Melakukan program 3R (Reduse, Reuse, dan Recycle) dengan cara menyimpan kantong plastik dan wadah – wadah plastik yang masih bisa digunakan kembali. Membawa tas belanjaan sendiri saat berbelanja untuk mengurangi penggunaan kantong plastik atau tas kertas.

Selain itu perlu juga mengembangankan sumber energi alternatif seperti sumber energi listrik tenaga air, angin (bayu), surya dan geotermal. Potensi – potensi ini perlu dikembangkan sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Dengan menjalankan program diet karbon di setiap rumah tangga, banyak manfaat yang diperoleh, di antaranya mengurangi tagihan listrik di rumah, mendukung program pemerintah untuk menghemat listrik sebesar 6,17 triliun, serta ikut berpartisipasi memperlambat laju pemanasan global.***

Nur Febrianti, staf peneliti Bidang Aplikasi Klimatologi dan Lingkungan Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan.

Penulis:

Empirical Orthogonal Function Analysis for Climate Variability over the Indonesia-Pacific Region

ABSTRACT

An Empirical Orthogonal Function analysis has been performed on monthly mean Outgoing Longwave Radiation anomaly for the greater part of Indonesia-Pacific region (30°S – 30°N; 80°E – 80°W) during the period 1982 – 2003. In this paper, the first three Empirical Orthogonal Function modes are presented. A mode is defined spatially in terms of an empirical orthogonal function, which describes the degree of coherence of variation. The principal component’s corresponding coefficients depict the evolution of the mode in time. The results show the most important non-seasonal convective variation over the Indonesia-Pacific region (the first mode) is governed by the west-east overturning Walker circulation. The spatial and temporal patterns of this mode are identified by the El Niño/Southern Oscillation phenomenon. Other two modes are discussed.

penulis : Orbita Roswintiarti, Betty Sariwulan, Nur Febrianti

Publikasi: Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan MAPIN XIV 2005

Setelah Banjir, DBD pun Mengancam

Tingginya curah hujan yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga kerusakan lingkungan. Setelah banjir masalah belumlah selesai, masih ada bahaya lain yang mengancam yakni munculnya berbagai penyakit termasuk demam berdarah. Sepanjang 2007, demam berdarah di Indonesia tercatat lebih dari 156.697 pasien dengan jumlah korban meninggal lebih dari 1.296 jiwa. Kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan sebelum bencana yang sama terulang kembali.
Kondisi cuaca saat ini masih tidak menentu di siang hari panas menyengat, namun terkadang hujan pada sore atau malam hari. Beberapa daerah bahkan mengalami banjir karena setelah banjir pasti terdapat genangan air di mana-mana. Keadaan seperti ini memiliki potensi munculnya berbagai macam penyakit seperti gangguan saluran pernapasan atas (ISPA), diare, malaria, sampai demam berdarah.
Penyakit demam berdarah (DBD) atau dengue hemorrhagic fever (DHF) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Penyebaran virus ini dibantu oleh nyamuk Aedes aegypti L. dan Aedes albopictus.
Siklus hidup nyamuk umumnya mulai dari telur, larva (jentik), pupa (kepompong), dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa. Telur nyamuk bisa mencapai ratusan butir dan dapat bertahan hidup selama tiga sampai empat minggu. Nyamuk biasanya meletakkan telur di atas dinding kontainer tepat di atas permukaan air yang tenang.
Telur-telur nyamuk akan menetas sekitar dua hari kemudian menjadi jentik-jentik nyamuk. Jentik nyamuk ini akan berkembang biak di permukaan air yang jernih. Dalam waktu 4 hingga 5 hari kemudian akan berubah menjadi kepompong. Sedangkan untuk berubah menjadi nyamuk dewasa, kepompong membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan jentik nyamuk antara 27 hingga 30 derajat Celsius, dengan kelembapan udara antara 70 hingga 74 persen, dan pH rata-rata 7. Sedangkan nyamuk dewasa idealnya berkembang pada suhu 20 hingga 30 derajat Celsius dan kelembapan udara di atas 60 persen. Pada kondisi normal seperti ini nyamuk dapat menghasilkan telur antara 50 hingga 100 butir, sedangkan apabila terjadi peningkatan suhu lingkungan bisa meningkat mencapai 400 butir.
Pada umumnya nyamuk dapat menyelesaikan siklus hidupnya (dari telur hingga nyamuk dewasa) membutuhkan waktu selama 21 hari. Namun, siklus ini bisa lebih singkat apabila terjadi peningkatan suhu. Perubahan cuca karena pemanasan global akibat dari efek rumah kaca (seperti akibat yang dirasakan saat berada di rumah kaca) akan menyebabkan meningkatnya populasi nyamuk hingga dua kali lipat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), kasus DBD umumnya terjadi kurang lebih enam hari setelah terjadi hujan lebat. Kasus banyak terjadi pada saat El Nino maupun La Nina.
Penyebaran nyamuk terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali pada tempat-tempat di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut. Aktivitas nyamuk berlangsung dari dua jam setelah matahari terbit sampai dua jam sebelum matahari terbenam. Lamanya aktivitas nyamuk, jauhnya jarak terbang nyamuk Aedes yang dapat mencapai 100 meter serta kepadatan penduduk yang tinggi menyebabkan penyebaran virus dengue sangat mudah dan cepat.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita ambil contoh meningkatnya kejadian demam berdarah. Nyamuk Aedes sp. sebagai vektor penyakit ini memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas.
Hal itulah yang menyebabkan penyakit ini banyak berkembang di daerah perkotaan yang panas dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Namun, dengan terjadinya global warming, di mana terjadi pemanasan secara global, daerah pegunungan pun mulai meningkat suhunya sehingga memberikan ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak.
Degradasi lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernapasan seperti asma, alergi, dan paru kronis.
Dari hasil penelitian “Kajian Variabilitas Iklim Wilayah Indonesia untuk Antisipasi Penyebaran Vector Borne Diseases dan Penyakit Kulit Berdasarkan Scenario Perubahan Iklim” oleh Mahmud (Lapan), Kota Cimahi merupakan kota yang terbanyak terjadi kasus DBD, diikuti Bandung, Tasikmalaya, Bogor, dan Kota Sukabumi. Untuk lokasi tersebut masing-masing mempunyai nilai tempertaur pada bulan Agustus 2005 antara 29.5-30.0 derajat Celsius, kecuali untuk Kota Bogor bernilai antara 29.0-29.5 derajat Celsius dan Kota Sukabumi bernilai antara 28.5-29 derajat Celsius. Jumlah curah hujan untuk Kota Cimahi pada bulan Agustus 2005 berkisar antara 10-15 mm, Kota Bandung mempunyai nilai curah hujan antara 5-15 mm, Kota Tasikmalaya berkisar dari 35-55 mm, Kota Bogor berkisar antara 55-65 mm, dan Kota Sukabumi berkisar antara 30-40 mm. Jumlah curah hujan terbanyak ada di Kota Kabupaten Bogor, Tasikmalaya, dan Kabupaten Sukabumi. Kondisi ini berhubungan erat dengan kasus DBD yang terjadi di Provinsi Jawa Barat bulan Agustus 2005. Kasus terbesar ada di Kota Cimahi, Bandung, Tasikmalaya, Bogor, dan Kota Sukabumi.
Upaya penanganan demam berdarah yakni dengan mengendalikan lingkungan vektor penyebarnya (nyamuk Aedes aegypti L.). Selain gerakan 3M plus, yaitu menutup, menguras, menimbun, serta dibarengi beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik dan menabur bubuk abate, perlu juga melakukan pengasapan dan memasang obat nyamuk. Cara ini akan menghilangkan tempat bertelur, bersarang, dan membunuh nyamuk dewasa secara keseluruhan.
Sebelum demam berdarah kembali memakan korban, lebih baik bila meningkatkan kewaspadaan dari sekarang. Dengan mengetahui pola hidup vektor pembawa DBD, kita akan lebih mudah melakukan pencegahan. Pencegahan secara keseluruhan dapat dilakukan dengan gerakan 3M plus dibarengi pengasapan, dan penggunaan obat nyamuk.
(Nur Febrianti, Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan Bandung)***

Dimuat di Pikiran Rakyat, 22 Januari 2009

Kekeringan Akan Landa Bandung Hingga Akhir Tahun

Belakangan ini udara Bandung terasa panas menyengat. Berdasarkan pengukuran yang dilakukan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Stasiun Bandung, ternyata suhu udara di Bandung mencapai 32 derajat celcius. Kondisi nilai ini dinyatakan masih di bawah suhu siang pada 27 Oktober 2006 sebesar 33,8 derajat celcius (Tribun, 16/10). Sedangkan saat ini El Nino Southern Oscillation (ENSO) dalam kondisi normal. Lalu, mengapa suhu Bandung bisa berbeda dari kondisi biasanya? Sesungguhnya, apa yang terjadi? Apakah ini akibat dari pemanasan global?

Seringkali segala sesuatu saat ini dikaitkan dengan perubahan iklim atau pemanasan global yang sedang terjadi. Sesungguhnya apakah pemanasan global itu? Apakah sudah sejauh itu terjadinya perubahan atas iklim kita? Apakah peningkatan suhu permukaan bumi rata-rata 0,74 derajat celsius (perubahan tertinggi terjadi di

Kutub Selatan) berdasarkan laporan Panel Interpemerintah untuk perubahan iklim (IPCC) itu dapat kita rasakan?

Pemanasan global adalah terjadinya kecenderungan meningkatnya suhu udara di permukaan bumi dan lapisan atmosfer bawah dari waktu ke waktu. Hal ini merupakan akibat terjadinya efek rumah kaca atau greenhouse effect (kondisi yang kita rasakan seperti saat berada di dalam rumah kaca). Karbondioksida (CO2) adalah gas terbanyak (75%) penyumbang emisi gas rumah kaca. Setiap kali kita menggunakan bahan bakar

fosil (minyak, bensin, gas alam, batubara) untuk keperluan rumah tangga, mobil, pabrik, ataupun membakar hutan, otomatis kita melepaskan CO2 ke udara.

Gas lain yang juga masuk peringkat atas adalah metan (CH4,18 persen), ozon (O3, 12 persen), dan clorofluorocarbon (CFC,14%). Gas metan banyak dihasilkan dari proses pembusukan materi organik seperti yang banyak terjadi di peternakan sapi. Gas metan juga dihasilkan dari penggunaan BBM untuk kendaraan. Sementara itu, emisi gas CFC banyak timbul dari sistem kerja kulkas dan AC model lama. Bersama gas-gas lain, uap air ikut meningkatkan suhu rumah kaca.

Akibat pemanasan global adalah terjadinya perubahan keseimbangan energi di atmosfer yang mendorong terjadinya pergeseran pada parameter iklim seperti penguapan, kecepatan angin, curah hujan, suhu, dan lain lain.

Semakin banyak konsentrasi atau jumlah gas-gas rumah kaca di atmosfer, semakin besar efek rumah kaca, maka suhu udara yang kita rasakan akan semakin panas. Bagaimana dengan suhu Jawa Barat, khususnya Bandung? Sudah berapa banyak sawah, perkebunan, dan hutan yang berubah menjadi permukiman?

Iklim Bandung

Tingginya suhu udara siang hari di Bandung hanyalah merupakan fluktuasi yang biasa. Berdasarkan analisis klimatologi suhu udara yang dilakukan oleh LAPAN, pada bulan April dan Oktober daerah Jawa Barat akan mengalami suhu udara yang lebih panas dari bulan-bulan lainnya. Kondisi ini terjadi karena posisi matahari yang sedang berada di belahan bumi selatan, dan matahari saat ini pada posisi terdekat dengan bumi.

Selain itu, perubahan tataguna lahan yang cukup siknifikan menambah panasnya udara karena berkurangnya naungan dan tingginya albedo. Albedo merupakan perbandingan antara radiasi gelombang panjang yang dipantulkan oleh permukaan dengan radiasi gelombang pendek yang diterima oleh permukaan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa suhu udara Jawa Barat umumnya pada kisaran 25 hingga 26

derajat celcius dari rata-rata 30 tahun (1973-2002), sedangkan suhu udara untuk Kabupaten dan Kota Bandung berkisar antara 22,5-24,5 derajat celsius.

Bandung akan terus mengalami suhu yang tinggi pada siang hari hingga akhir bulan ini. Memasuki bulan November, walaupun masih akan panas, tidak akan sepanas suhu udara saat ini. Kemungkinan hingga akhir tahun ini Bandung masih akan mengalami kekeringan. Kondisi ini diperburuk dengan tidak terbentuknya awan-awan penghasil hujan di Bandung karena tingginya kecepatan angin. (*)


Nur Febrianti

*) Penulis adalah Staf Peneliti Bidang Aplikasi Klimatologi dan Lingkungan

Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN)

Dimuat di TribunJabar 20 Oktober 2008

PENERAPAN METODA MOCK

PENERAPAN METODA MOCK DAN ANALISIS FREKUENSI
UNTUK MENGHITUNG DEBIT ANDALAN
DAS KURANJI PADANG

ABSTRAK
Dalam perencanaan proyek-proyek di bidang teknik sumberdaya air (misalnya PLTA, PDAM dan irigasi), biasanya terlebih dulu harus dicari debit andalan (depenable discharge). Debit andalan ini diantaranya digunakan sebagai debit perencanaan yang diharapkan tersedia untuk mengatur distribusi air minum dan memperkirakan luas daerah irigasi. Namun pengumpulan data debit seringkali bermasalah karena kondisi lokasi yang tidak memungkinkan sehingga menyebabkan tidak kontinunya data debit. Dengan menggunakan Metode Mock diharapkan dapat memprediksi debit yang tidak kontinu tersebut sehingga memadai untuk menentukan debit andalan. Debit andalan sendiri diperoleh dengan menggunakan Sebaran Normal, dan Log Pearson tipe III. Dari hasil kalibrasi nilai koefisien infiltrasi (i) dan faktor resesi air tanah (k) masing-masing sebesar 0,7 dan 0,9. Dengan menggunakan kedua nilai tersebut debit sungai setengah bulanan berkisar antara 14,7 – 24,7 m3/s. Debit andalan 80% setengah bulanan yang mengikuti sebaran Normal dan dapat memenuhi kebutuhan irigasi Kota Padang berkisar antara 8,8 – 16,9 m3/s.

Kata kunci : Debit Andalan, Metode Mock, Sebaran Normal, dan Log Pearson tipe III

Publikasi: Seminar nasional matematika vol.3 tahub 2008

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!