Setelah Banjir, DBD pun Mengancam

Tingginya curah hujan yang dapat mengakibatkan terjadinya banjir tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tetapi juga kerusakan lingkungan. Setelah banjir masalah belumlah selesai, masih ada bahaya lain yang mengancam yakni munculnya berbagai penyakit termasuk demam berdarah. Sepanjang 2007, demam berdarah di Indonesia tercatat lebih dari 156.697 pasien dengan jumlah korban meninggal lebih dari 1.296 jiwa. Kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan sebelum bencana yang sama terulang kembali.
Kondisi cuaca saat ini masih tidak menentu di siang hari panas menyengat, namun terkadang hujan pada sore atau malam hari. Beberapa daerah bahkan mengalami banjir karena setelah banjir pasti terdapat genangan air di mana-mana. Keadaan seperti ini memiliki potensi munculnya berbagai macam penyakit seperti gangguan saluran pernapasan atas (ISPA), diare, malaria, sampai demam berdarah.
Penyakit demam berdarah (DBD) atau dengue hemorrhagic fever (DHF) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue. Penyebaran virus ini dibantu oleh nyamuk Aedes aegypti L. dan Aedes albopictus.
Siklus hidup nyamuk umumnya mulai dari telur, larva (jentik), pupa (kepompong), dan akhirnya menjadi nyamuk dewasa. Telur nyamuk bisa mencapai ratusan butir dan dapat bertahan hidup selama tiga sampai empat minggu. Nyamuk biasanya meletakkan telur di atas dinding kontainer tepat di atas permukaan air yang tenang.
Telur-telur nyamuk akan menetas sekitar dua hari kemudian menjadi jentik-jentik nyamuk. Jentik nyamuk ini akan berkembang biak di permukaan air yang jernih. Dalam waktu 4 hingga 5 hari kemudian akan berubah menjadi kepompong. Sedangkan untuk berubah menjadi nyamuk dewasa, kepompong membutuhkan waktu sekitar dua hari.
Kondisi lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan jentik nyamuk antara 27 hingga 30 derajat Celsius, dengan kelembapan udara antara 70 hingga 74 persen, dan pH rata-rata 7. Sedangkan nyamuk dewasa idealnya berkembang pada suhu 20 hingga 30 derajat Celsius dan kelembapan udara di atas 60 persen. Pada kondisi normal seperti ini nyamuk dapat menghasilkan telur antara 50 hingga 100 butir, sedangkan apabila terjadi peningkatan suhu lingkungan bisa meningkat mencapai 400 butir.
Pada umumnya nyamuk dapat menyelesaikan siklus hidupnya (dari telur hingga nyamuk dewasa) membutuhkan waktu selama 21 hari. Namun, siklus ini bisa lebih singkat apabila terjadi peningkatan suhu. Perubahan cuca karena pemanasan global akibat dari efek rumah kaca (seperti akibat yang dirasakan saat berada di rumah kaca) akan menyebabkan meningkatnya populasi nyamuk hingga dua kali lipat.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO), kasus DBD umumnya terjadi kurang lebih enam hari setelah terjadi hujan lebat. Kasus banyak terjadi pada saat El Nino maupun La Nina.
Penyebaran nyamuk terdapat hampir di seluruh pelosok Indonesia, kecuali pada tempat-tempat di ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan air laut. Aktivitas nyamuk berlangsung dari dua jam setelah matahari terbit sampai dua jam sebelum matahari terbenam. Lamanya aktivitas nyamuk, jauhnya jarak terbang nyamuk Aedes yang dapat mencapai 100 meter serta kepadatan penduduk yang tinggi menyebabkan penyebaran virus dengue sangat mudah dan cepat.
Pergeseran ekosistem dapat memberi dampak pada penyebaran penyakit melalui air (waterborne diseases) maupun penyebaran penyakit melalui vektor (vector-borne diseases). Mengapa hal ini bisa terjadi? Kita ambil contoh meningkatnya kejadian demam berdarah. Nyamuk Aedes sp. sebagai vektor penyakit ini memiliki pola hidup dan berkembang biak pada daerah panas.
Hal itulah yang menyebabkan penyakit ini banyak berkembang di daerah perkotaan yang panas dibandingkan dengan daerah pegunungan yang dingin. Namun, dengan terjadinya global warming, di mana terjadi pemanasan secara global, daerah pegunungan pun mulai meningkat suhunya sehingga memberikan ruang (ekosistem) baru untuk nyamuk ini berkembang biak.
Degradasi lingkungan yang disebabkan oleh pencemaran limbah pada sungai juga berkontribusi pada waterborne diseases dan vector-borne disease. Ditambah pula dengan polusi udara hasil emisi gas-gas pabrik yang tidak terkontrol selanjutnya akan berkontribusi terhadap penyakit-penyakit saluran pernapasan seperti asma, alergi, dan paru kronis.
Dari hasil penelitian “Kajian Variabilitas Iklim Wilayah Indonesia untuk Antisipasi Penyebaran Vector Borne Diseases dan Penyakit Kulit Berdasarkan Scenario Perubahan Iklim” oleh Mahmud (Lapan), Kota Cimahi merupakan kota yang terbanyak terjadi kasus DBD, diikuti Bandung, Tasikmalaya, Bogor, dan Kota Sukabumi. Untuk lokasi tersebut masing-masing mempunyai nilai tempertaur pada bulan Agustus 2005 antara 29.5-30.0 derajat Celsius, kecuali untuk Kota Bogor bernilai antara 29.0-29.5 derajat Celsius dan Kota Sukabumi bernilai antara 28.5-29 derajat Celsius. Jumlah curah hujan untuk Kota Cimahi pada bulan Agustus 2005 berkisar antara 10-15 mm, Kota Bandung mempunyai nilai curah hujan antara 5-15 mm, Kota Tasikmalaya berkisar dari 35-55 mm, Kota Bogor berkisar antara 55-65 mm, dan Kota Sukabumi berkisar antara 30-40 mm. Jumlah curah hujan terbanyak ada di Kota Kabupaten Bogor, Tasikmalaya, dan Kabupaten Sukabumi. Kondisi ini berhubungan erat dengan kasus DBD yang terjadi di Provinsi Jawa Barat bulan Agustus 2005. Kasus terbesar ada di Kota Cimahi, Bandung, Tasikmalaya, Bogor, dan Kota Sukabumi.
Upaya penanganan demam berdarah yakni dengan mengendalikan lingkungan vektor penyebarnya (nyamuk Aedes aegypti L.). Selain gerakan 3M plus, yaitu menutup, menguras, menimbun, serta dibarengi beberapa plus seperti memelihara ikan pemakan jentik dan menabur bubuk abate, perlu juga melakukan pengasapan dan memasang obat nyamuk. Cara ini akan menghilangkan tempat bertelur, bersarang, dan membunuh nyamuk dewasa secara keseluruhan.
Sebelum demam berdarah kembali memakan korban, lebih baik bila meningkatkan kewaspadaan dari sekarang. Dengan mengetahui pola hidup vektor pembawa DBD, kita akan lebih mudah melakukan pencegahan. Pencegahan secara keseluruhan dapat dilakukan dengan gerakan 3M plus dibarengi pengasapan, dan penggunaan obat nyamuk.
(Nur Febrianti, Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim Lapan Bandung)***
Penulis:

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s